PALAGA

PALAGAHAMENGKU RIMBANING BUMI OSING

TERUMBU KARANG


terumbu2-c.jpg (17157 bytes)terumbu3-c.jpg (18841 bytes)



Terumbu karang yang mempunyai bentuk bercabang, pipih seperti kipas, ataupun menyerupai kelopak bunga sesungguhnya merupakan tempat hidup koloni hewan dan tumbuhan karang.
Tipe terumbu karang yang ada di sepanjang pantai Taman Nasional Baluran adalah karang tepi, memiliki lebar yang beragam dan berada pada kisaran kedalaman 0,5 meter sampai 40 meter.
Zonasi terumbu karang di perairan Taman Nasional Baluran diawali dari:

* Dataran terumbu karang, berada pada kedalaman 0,5 meter sampai 3 meter dan didominasi oleh karang yang ukurannya kecil.
* Puncak terumbu karang, didominasi oleh jenis karang keras (hard coral).
* Lereng terumbu. Zona ini sangat berpotensi karena hampir semua jenis
karang dan ikan hias yang ada di perairan Taman Nasional Baluran dapat dijumpai di bagian ini.
* Daerah tubir merupakan daerah yang sangat menarik untuk kegiatan wisata alam bahari karena dipenuhi oleh jenis karang lunak (soft coral) dan jenis ikan yang bergerak secara berkelompok, sehingga menjadi atraksi alam bawah air yang mempesona.

Terumbu karang mempunyai fungsi fisik sebagai pelindung pantai dari pengikisan air laut (abrasi), fungsi ekologi bagi kelangsungan hidup berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya, serta fungsi ekonomi khususnya bagi penduduk pantai (nelayan) dan dapat dikembangkan untuk dimanfaatkan sebagai objek wisata alam bahari.
Kawasan perairan Taman Nasional Baluran memiliki sekitar 145 jenis karang, antara lain:

* Suku ACROPORIDAE ada 42 jenis, misalnya Montipora aequitubercula, Montipora digiata, Montipora informis, Acropora palifera, Acropora austera.
* Suku FUNGIDAE ada 10 jenis, antara lain Helio fungiactiniformis, Fungia fungites, Fungia scabra, Fungia valida.
* Suku PORITIDAE ada 13 jenis, antara lain Porites sylindrica, Porites lichen, Porites lobata, Politus rus, Goniopora columna, Alveopora spongiosa.
* Suku MILLEPOEIDAE ada 2 jenis, yaitu Melliopora tenella dan Melliopora platyphyllia. Khusus untuk jenis ini hanya bisa dijumpai di Tanjung Bilik Timur.
* Suku HELIOPORIDAE di Taman Nasional Baluran hanya ada satu jenis, yaitu Heliopora coerulea. Jenis ini mendominasi daerah Bilik Timur. Penyebarannya cukup merata pada semua wilayah yang memiliki penutupan karang hidup.

Heliopora coerulea atau karang biru (blue coral) mempunyai bentuk pipih yang menyerupai kelopak bunga, tampak luar putih tetapi bila terluka atau dipatahkan sedikit dari ujungnya, akan tampak berwarna biru sehingga karang ini disebut karang biru.

Lebih Detail...

HUTAN BAKAU

[IMAGE]











Tipe hutan ini terdapat di daerah pantai Utara dan Timur kawasan Taman Nasional seperti di Bilik, Lempuyang, Mesigit, Tanjung Sedano dan Kelor. Pada

daerah bakau yang masih baik (Kelor dan Bilik) flora yang umum dijumpai adalah Api-api (Avicenia spp.), Bogem (Sonneratia spp.) dan Bakau (Rhizophora spp.). Pada beberapa tempat dijumpai tegakan murni Tinggi (Ceriops tagal) dan Bakau (Rhizophora apiculata).

Beberapa daerah lain seperti di Utara Pandean, Mesigit, sebelah Barat Bilik terdapat hutan bakau yang telah rusak. Daerah ini menjadi lumpur yang dalam pada musim hujan, tetapi akan berubah menjadi keras dan kering dengan lapisan garam di permukaan pada musim kering. Sedikit sekali pohon yang tumbuh disini dan tidak dijumpai tumbuhan bawah. Beberapa species yang tumbuh antara lain adalah Api-api (Avicenia sp.) dan Truntun (Lumnitzera racemosa).

Menurut hasil inventarisasi Penilaian potensi hutan bakau di Taman Nasional Baluran tahun 1994 / 1995 di daerah sekitar Bama terdapat salah satu pohon bakau yang diduga terbesar di dunia dengan keliling pohon 450 cm.


Lebih Detail...

FAUNA Taman Nasional BALURAN

FAUNA

Taman Nasional Baluran memiliki tipe fauna yang beraneka ragam dan secara garis besar terdapat 4 (empat) ordo yaitu : mamalia,aves, pisces dan reptilia.

Mamalia besar yang penting terutama dari golongan hewan berkuku antara lain Banteng (Bos javanicus), Kerbau Liar (Bubalus bubalis), Rusa (Cervus timorensis) dan Kijang (Muntiacus muntjak), Babi hutan (Sus scrofa dan Sus verrucossus), Macan tutul (Panthera pardus ) dan Ajag (Cuon alpinus).

Jenis primata yang terdapat di sini yaitu Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan Budeng (Presbytis cristata).

Dari golongan burung diperkirakan sebanyak 155 jenis endemik Jawa yaitu Tulung Tumpuk (Megalaima javaensis), endemik jawa bali yaitu Jalak Abu (Sturnus melanopterus) dan Raja Udang (Halcyon cyanoventris). Di daerah ini juga terdapat Ayam hutan (Gallus spp.) dan Burung merak (Pavo muticus).

Dari gologan pisces belum banyak diketahui informasinya, walau demikian terdapat jenis yang memiliki nilai ekonomis yaitu Bandeng (Chanos chanos).

Reptilia besar tidak banyak dijumpai pada daerah ini. Jenis penting yang terdapat di sekitar pantai adalah Biawak (Varanus salvator).

Lebih Detail...

TAMAN NASIONAL BALURAN

  1. PENDAHULUAN
    Taman Nasional Baluran merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Hutan dan Pelestarian Alam Departemen Kehutanan.
    Ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomer: 279/Kpts-VI/1997 tanggal 25 Mei 1997 dan berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor: 51/Kpts/DJ-VI/1987 tanggal 12 Desember 1997, wilayah kerjanya meliputi kawasan Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo dan Cagar Alam/Taman Wisata Kawah Ijen.

  2. SEJARAH TAMAN NASIONAL BALURAN
    Upaya penunjukan kawasan Baluran menjadi Suaka Margasatwa telah dirintis oleh Kebun Raya Bogor sejak tahun 1928, rintisan tersebut didasarkan kepada usulan AH. LOEDEBOER yang menguasai daerah tersebut yang sebelumnya daerah ini sebagai lokasi perburuan.
    Tahun 1937 kawasan Baluran ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa dengan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor: 9 tahun 1937 (Lembaran Negara No. 544 tahun 1937)
    Tujuan dijadikannya kawasan Baluran sebagai Suaka Margasatwa pada waktu itu adalah untuk melindungi berbagai jenis satwa langka dari kepunahan.
    Pada tahun 1980 bertepatan dengan hari Pengumuman Strategi Pelestarian Dunia, Suaka Margasatwa Baluran dideklarasikan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia sebagai Taman Nasional.

  3. GAMBARAN UMUM
    Taman Nasional Baluran dengan luas 25.000 Ha
    wilayah daratan dan 3.750 Ha wilayah perairan terletak di antara 114° 18' - 114° 27' Bujur Timur dan 7° 45' - 7° 57' Lintang Selatan. Daerah ini terletak di ujung Timur pulau Jawa. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah Timur berbatasan dengan Selat Bali, sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Bajulmati dan sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Kelokoran.
    Iklimnya bertipe Monsoon yang dipengaruhi oleh angin Timur yang kering. Curah hujan berkisar antara 900 - 1600 mm/tahun, dengan bulan kering per tahun rata-rata 9 bulan. Antara bulan Agustus s/d Desember bertiup angin cukup kencang dari arah Selatan.
    Pada bagian tengah dari kawasan ini terdapat Gunung Baluran yang sudah tidak aktif lagi. Tinggi dinding kawahnya bervariasi antara 900 - 1.247 m, dan membatasi kaldera yang cukup luas.
    Kawasan perairan memiliki keanekaragaman hayati dan ekosistem perairan yang perlu dilestarikan guna mendukung strategi konservasi yaitu:
    - Perlindungan sistem penyangga kehidupan.
    - Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa
    beserta ekosistemnya.
    - Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan
    ekosistemnya.
    Daerah perairan Taman Nasional Baluran sangat berpotensi guna dkembangkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.


  4. FLORA DAN FAUNA
    Taman Nasional Baluran merupakan satu-satunya kawasan di Pulau Jawa yang memiliki padang savana alamiah. Luasnya ± 10.000 Ha atau sekitar 40% dari luas kawasan.
    Kawasan Baluran mempunyai ekosistem yang lengkap yaitu Hutan Mangrove, Hutan Pantai, Hutan Payau/Rawa, Hutan Savana dan Hutan Musim (dataran tinggi dan dataran rendah)
    Tumbuhan khas Baluran adalah pohon Widoro bekol (Zizyphus rotundifolia), tumbuhan lainnya dalam Asam (Tamarindus indica), Gadung (Dioscorea hispida), Pilang (Acacia leucophloea), Kemiri (Sterculia foetida), Gebang (Corypha utan), Talok (Grewia sp), Walikukun (Schoutenia ovata), Mimbo (Azadirachta indica), Kesambi (Schleicera oleosa), Lontar (Borassus sp) dan lain-lain.
    Di kawasan ini terdapat sekitar 155 jenis burung yang sudah langka antara lain Walet ekor jarum (Hirundapus caudacutus), mamalia besar yang merupakan satwa langka adalah Banteng (Bos javanicus) dan Ajag (Cuon alpinus), satwa lainnya yang terdapat di Baluran adalah Babi hutan (Sus sp), Kijang (Muntiacus muntjak), Rusa (Cervus timorensis), Macantutul/Kumbang (Felis pardus), Kerbau liar (Bubalus bubalis), Lutung (Presbytis cristata), Kera abu-abu (Macaca fascicularis), Burung Merak (Pavomuticus), Ayam hutan (Gallus sp), dan lain-lain.
    Selain terumbu karang dan ikan hias, daerah ini juga memiliki berbagai jenis Mollusca, Crustaceae, Echinodermata serta biota laut lainnya, sehingga kawasan ini mempunyai daya tarik sendiri.

  5. OBYEK WISATA YANG MENARIK

Sumber : DEPARTEMEN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDRAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN PELESTARIAN ALAM

TAMAN NASIONAL BALURAN

Jl: Jendral A. Yani 108
Telp./ fax. (0333) 24119
BANYUWANGI 68416

Lebih Detail...

Cegah kepunahan Satwa Langka

Cegah kepunahan Lutung Jawa

lutung jawaSebanyak 45 ekor satwa liar yang terdiri dari 41 ekor lutung jawa (Trachiphitecus auratus) dan 4 ekor kijang (Muntiacus muntjak) dilepas di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada tanggal 9 - 11 Agustus 2006. Sebelumnya satwa itu telah dirawat dan dilatih untuk hidup di alam bebas di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Setelah menjalani proses observasi perilaku, cek medis, perawatan dan pelatihan selama kurang lebih 1 tahun, satwa-satwa tersebut kini sudah siap dilepas kembali ke hutan.


Pelepasan satwa yang dilakukan oleh PPS Petungsewu bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim II, TNBTS, dan ProFauna Indonesia ini telah dipersiapkan sejak setahun yang lalu. Persiapan ini meliputi antara lain survey habitat yang cocok untuk satwa yang akan dilepas dan cek medis untuk memastikan bahwa satwa tersebut telah bebas dari penyakit berbahaya dan menular. Pengamatan tentang perilaku dari satwa juga mendapat perhatian serius dari tim PPS Petungsewu untuk mengetahui apakah satwa tersebut akan mampu beradaptasi dengan alam yang baru.
Khusus untuk untuk lutung jawa yang hidupnya berkelompok (sosial), akan dilepas ke alam dalam bentuk kelompok. Ada 4 kelompok lutung yang akan dilepas, yaitu kelompok lutung yang dipimpin lutung bernama Tomi, Bejo, Bowo dan Rio. Sebelumnya asal lutung-lutung tersebut berbeda-beda, ada yang hasil penyitaan BKSDA dan penyerahan sukarela dari masyarakat. Setelah mendapat perawatan medis, lutung tersebut kemudian diajarkan untuk hidup berkelompok dengan lutung yang lain. Setiap kelompok dipimpin oleh seekor lutung jantan dewasa dengan anggota keluarga 6 - 18 ekor. Beberapa ekor lutung bahkan lahir di PPS Petungsewu, seperti bayi lutung bernama Intan yang ada di kelompoknya Tomi.


"Pelepasan lutung ini menjadi solusi yang bijaksana untuk juga untuk memberi kesempatan kepada lutung tersebut mengenyam kebebasan hidup di alam sehingga bisa berfungsi secara ekologis dan juga untuk mengurangi kepadatan populasi satwa di PPS," kata Iwan Kurniawan, Ketua Yayasan PPS Petungsewu yang mengkoordir pelepasan lutung tersebut. Menurut Iwan, hingga pertengahan Juli 2006 ada 262 ekor satwa yang dirawat di PPS Petungsewu. Satwa-satwa tersebut adalah merupakan hasil operasi pengamanan satwa yang dilakukan oleh petugas Balai KSDA Jatim II (48%), translokasi dari wilayah BKSDA lain (33%) dan juga penyerahan sukarela dari masyarakat (15%), sedangkan sisanya lahir di dalam kandang (5%).


Kelompok lutung itu dilepas di kawasan TNBTS karena kawasan TNBTS terutama di daerah Semeru Timur dipandang memenuhi kriteria sebagai tempat pelepasliaran satwa ini. Kriteria tersebut antara lain adalah ketersedian vegetasi yang menjadi pakan dan tempat berlindung satwa, tidak adanya kompetisi yang berlebihan dengan satwa asli, dan daerah tersebut merupakan sebaran alami dari lutung. Selain itu faktor keamanan juga menjadi pertimbangan untuk pemelihan lokasi pelepasan satwa.


Pelepasan lutung yang didanai oleh World Society for the Protection of Animals (WSPA) ini sudah mendapatkan rekomendasi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), selaku otorita ilmiah di Indonesia. LIPI menilai bahwa prosedur pelepasan satwa yang dilakukan PPS Petungsewu bersama BKSDA Jatim II dan TNBTS ini telah benar dan lutung yang akan dilepas adalah benar-benar lutung yang memang hidup di Pulau Jawa.


Perdagangan lutung jawa


lutung jawa http://maricegahsatwapunah.co.cc/ Lutung jawa termasuk jenis satwa yag dilindungi undang-undang dan keberadaannya semakin terancam punah. Menurut pemantauan ProFauna Indonesia, sebuah organisasi perlindungan satwa liar, saat ini habitat lutung jawa hanya tersisa sedikit di Pulau Jawa. Kini lutung jawa bisa ditemui di sejumlah lokasi seperti di TNTBS, Gunung Arjuna, Pegunungan Hyang, Taman Nasional Alas purwo, Taman Nasional Baluran, Pulau Sempu, Tahura R Soerjo dan Taman Nasional Merebetiri. Di beberapa daerah lutung ini telah punah secara lokal, misalnya di Gunung Panderman dan Pegunungan Kawi sisi timur.


Pembukaan hutan untuk perladangan menjadi ancaman serius bagi kelestarian lutung jawa dan juga satwa liar lainnya. Akibat pembukaan hutan ini lutung semakin terdesak habitatnya. Perambahan hutan juga akan berdampak terhadap masyarakat sekitar, seperti tanah longsor dan kekurangan sumber air bersih.


Selain berkurangnya hutan di Pulau Jawa, lutung ini semakin terancam punah akibat perburuan untuk diperdagangkan. "Pada tahun 2004 ProFauna memantau ada sekitar 2500 ekor lutung jawa yang diperdagangkan secara ilegal di Jawa," ujar Rosek Nursahid, Direktur ProFauna International yang turut dalam pelepasan lutung di TNBTS. Lutung tersebut banyak diperdagangkan di Pasar Burung Kupang Surabaya, Bratang Surabaya, Saradan Ngawi, Jatinegara Jakarta dan Pasar Burung Pramuka Jakarta. Lutung itu dijual seharga Rp 150.000 - 250.000 per ekor.


Menutut UU Nomer tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perdagangan satwa dilindungi adalah dilarang, dan pelanggaranya dapat dikenakan sanksi penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta. "Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku perburuan dan perdagangan lutung akan membantu lutung jawa tersebut untuk tetap dapat bertahan hidup di alam lebih lama," kata Rosek yang juga pendiri ProFauna Indonesia itu.

Kucing Emas Hewan Langka Yang Hampir Punah

cegah satwa punah, kucing emas


Kucing Emas (Felis temmincki )




Kucing Emas merupakan jenis yang misterius dan sangat sulit di jumpai saat ini, sedikit sekali pengetahuan mengenai perilaku dan ekologi jenis ini, termasuk populasi mereka di dalam kawasan. pola hidup satwa ini belum diketahui secara jelas tidak seperti jenis kucing hutan lainnya.


Bulu berwarna mulai dari pirang coklat muda sampai hitam. Pada bagian kepala dan bagian bawah ekornya terdapat garis putih yang dapat dilihat dengan mudah. pada tahun 1996, melalui Photo Trapping, Untuk pertama kalinya berhasil terpetret seekor kucing Emas yang berwarna hitam pekat.


Satwa ini dapt ditemukan mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 2.000 m dpl. Hidupnya tidak sesoliter jenis kucing yang lain dan sering terlihat bergerak dalam kelompok, keluarga atau berpasangan. Umumnya satwa ini bergerak di daratan meskipun mereka pandai memanjat dan aktif disiang hari, meskipun mereka pemburu yang ulung di waktu malam. Lokasi yang diperkirakan merupakan habitatnya adalah Tandai dan Gunung Seblat.




http://www.bappedajambi.go.id/satwa.php

Jalak Bali Satwa yang Hampir Punah

cegah satwa punah, jalak bali


Leucopsar rothschildi adalah nama latin dari satwa Jalak Bali. Bagi penggemar Burung pasti mengenal dengan burung yang satu ini. Burung ini lekat dan khas dengan Privinsi Bali. Populasinya tinggal puluhan, tidak dijumpai lagi di alam lepas bahkan dunia sudah menghapus keberadaanya dan menganggap jalak Bali telah punah.


Mengingat populasinya yang tinggal puluhan team cegah satwa punah mengajak dan menghimbau Jauhkan tangan2 tidak bertanggung jawab menjamah Jalak Bali. Perlu peran serta semua pihak untuk hal ini. Jangan tanya peran siapa? Tentu sahaja peran kita semua!! mulai dari sekarang dan tidak perlu menunggu esok gemakan cegah satwa punah! Lindungi Jalak Bali

Cegah satwa Punah: Mengenal Satwa Penyu

Penyu merupakan salah satu satwa yang dilindungi dan target dari 'cegah satwa punah' untuk kelestariannya. Penyu yang ada di dunia terdiri dari dua famili dan lima genus. Famili Cheloniidae terdiri dari empat genus dan enam spesies. Genus Caretta dan Eretmochelys masing-masing memiliki satu spesies, sedangkan Chelonia dan Lepidochelys keduanya memiliki dua spesies.


Famili Cheloniidae terdiri dari :


1. Penyu Tempayan (Caretta caretta)


2. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)


3. Penyu Hijau (Chelonia mydas)


4. Penyu Pipih (Natator depressa)


5. Lepidochelys kempi ,dan


6. Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea)


7. Famili Dermochelydae terdiri dari satu genus dan satu spesies, yaitu Penyu Belimbing (Dermochelys coreacea ) (Bustard 1972).

Cegah satwa punah: Biawak Komodo


cegah satwa punah-komodo


Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m, bobot mencapai 70 Kg. Biawak komodo merupakan spesies yang rentan terhadap kepunahan, Sekitar 4.000-5.000 ekor komodo diperkirakan masih hidup di alam bebas. Karena populasinya yang sangat terbatas dan diperkirakan hanya sejumlah 350 ekor komodo betina saja yang masih produktif dan bisa berkembang biak. Berawal dari ancaman kepunahan ini pemerintah mendirikan Taman Nasional Komodo guna mencegah satwa komodo dari kepunahan.


Announcement


Cegah satwa punah masih harus digemakan. Visi dan misi blog ini beserta segenap muatan didalamnya kami pindah ke www.maricegahsatwapunah.co.cc. Kepada sahabat yang sudah memberi link ke Blog ini MOhon untuk memindahkan link ke alamat URL dimaksud. Terimakasih.


Perburuan Satwa di Alas Purwo


cegah satwa merak punah


Seorang sahabat mengusulkan dibentuk wadah 'Ayo Cegah Satwa Punah' disingkat ACSP. Beliu menginformasikan lagi maraknya pencurian telur burung merak serta pemburuan monyet di Alas Purwo (Our National Park) konon katanya untuk jamu penyakit dalam. "wah kalo gini nanti populasinya habis dong...." keluh beliau mengakhiri kalimatnya.

Sebagai orang Banyuwangi, berita ini adalah pukulan yang sangat berharga bagi saya. Sekaligus tulisan ini menanggapi beliau dan saya bilang, Ayo untuk mencegah satwa punah dari Alas Purwo bagian dari bumi Banyuwangi tercinta. ACSP mungkin nama yang baik namun perlu kita bertemu dan kaji bersama.



Lebih Detail...

KONSERVASI KAWASAN MERAPI

KONSERVASI KAWASAN MERAPI,

HARUSKAH DENGAN TAMAN NASIONAL ?

Oleh Indra DE


Fungsi dan Pengelolaan Merapi

Kawasan Merapi dengan luas kurang lebih 8.752,83 ha terdiri atas ekosistem alpine dan hutan tropis pegunungan (Tropical Mountain Forest). Ekosistem kawasan Gunung Merapi mempunyai fungsi sangat penting sebagai penyangga kehidupan dan memberi perlindungan lingkungan sekitarnya maupun daerah bawahannya, khususnya untuk propinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Peran penting dari fungsi kawasan Merapi diantaranya adalah sebagai daerah tangkapan air, pengendali banjir, erosi, keragaman hayati, social cultural, maupun ekonomi. Upaya perlindungan kawasan Merapi saat ini dengan menjadikannya kawasan lindung. Status yang melekat adalah : Cagar Alam Plawang Turgo di Kabupaten Sleman, Lindung, dan Hutan Taman Wisata. Upaya perlindungan atas kawasan Merapi telah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda, tahun 1931 sebagai perlindungan sumber air, sungai dan penyangga kehidupan untuk wilayah disekitarnya. Sedangkan pemerintah Indonesia menetapkan sebagai Cagar alam (CA) untuk Pelawangan Turgo pada tanggal 8 Februari 1984 melalui SK Menhut No 308/Kpts-II/1984. Dan saat ini, Pemda Jateng – DIY sedang menggagas untuk menjadikannya sebagai Taman Nasional. Dengan berbagaialasan tentunya. Beberapa komponen ekosistem yang dinilai unik diantaranya adalah vanda tricolor, Castanopsis argentia, elang jawa (spizaitus bartelski), Macan Tutul (Panthera pardus sp) bahkan sebagian masyarakat masih meyakini terdapatnya Harimau Jawa (Panthera tigris Sondaica). Selain keunikan sifat gunungapi itu sendiri yang menjadikan kawasan Merapi sebagai laboratorium alam untuk pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan pendidikan, baik berkaitan dengan kegunungapian, biologi, geologi, geografi maupun arkeologi. Fungsi tangkapan air begitu dominan kerena krisis air yang mulai kita rasakan bersama. Sedangkan fungsi lain seperti filter oksigen sebagai penyelematan ozone walaupun di negera maju begitu mendominasi pemikiran para pencinta lingkungan, barangkali masih ditempatkan pada prioritas kesekian. Demikian juga dengan keragaman hayati yang ada (teridentifikasi hewan 76 spesies dan tumbuhan 43 famili). Dari konsep konservasi yang dikembangkan, baru dari sisi proteksi. Untuk itulah konsep konservasi yang ada adalah dengan model Cagar alam, Taman Hutan Raya atau Taman Nasional. Dimana, terjadi proteksi yang berlebihan atas kawasan yang dinilai memiliki nilai atau fungsi penting. Bukan konsep pengelolaan yang mengutamakan sinergitas antara pengelolaan dan pemanfaatan.
Belajar dari pengelolaan 42 Taman Nasional

Pengelolaan kawasan konservasi dengan “judul” TN tidak lepas dari konsep yang dikembangkan di Amerika Serikat. Sejak ditetapkannya kawasan Yollowstone, tahun 1872 sebagai Nasional park pertama, sampai saat ini terdapat 2.600 kawasan yang dilindungi di seluruh dunia dengan luas empat juta kilometer yang ditetapkan di 124 negara.

Dasar hukum pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia, termasuk didalamnya pengelolaan TN adalah UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan UU No 41 tahun 1999 tentang kehutanan. Kebijakan lainnya adalah UU No 23 tahun 1997 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup dan yang kerap dilupakan sebagai sandaran hukum adalah UU No 24 tahun 1992 tentang penataan ruang.. Kebijakan lain setingkat Peraturan pemerintah adalah PP No 68/98, keputusan menteri Kepmenhut No. 70/Kpts-II/2001, No 32/Kpts-II/2001 maupun pemerintah daerah.

Dari perjalanan pemerintahan di Indonesia, begitu banyak kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi, baik dengan status taman nasional (TN), Cagar Alam (CA), Hutan Lindung (HL), Taman Hutan Raya (THR), Cagar Biosvir dll. Penetapan kawasan tersebut dilihat dari segi tujuannya adalah cukup baik, yakni untuk melindungi kawasan yang memiliki karakteristik khas dan memiliki fungsi penting terhindar dari kerusakan. Kalau mungkin, memenfaatkannya tanpa merusak. Namun fakta dilapangan berkata lain. Sebagian besar kawasan yang ditetapkan tersebut, yang sekiligus dijamin dan dilindungi oleh undang-undang mengalami degradasi yang cukup parah (rusak), bahkan hilang.

Dilain sisi, ada kawasan-kawasan yang dikelola oleh masyarakat dengan nama yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Seperti Hutan adat di Desa Adat Tenganan, Desa adat Sibetan Propinsi Bali, Hutan adat di Baduy Propinsi Banten atau alas larangan dan bingungan di Wilayah Gunung Merapi. Dengan manajemen lokal serta kearifan yang masih kuat dipegang oleh masyarakat, hutan-hutan tersebut sampai saat ini masih eksis tanpa adanya gangguan dan memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar maupun darah bawahannya.

Dari dua pola tersebut, jelas ada sesuatu yang perlu dikaji, bagaimana pola pemerintah yang dibuat oleh para pakar serta dijalankan dengan materi, fasilitas dan sumberdaya yang cukup justru tidak mampu menjamin kelestarian sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang. Sedangkan konsep lainnya yang dibuat oleh orang desa yang tidak makan sekolah justru mampu menjamin kelestariannya. Dan bencana banjir, tanah longsor serta krisis air bersih yang akhir-akhir ini menimpa sebagaian besar wilayah Indonesia adalah buah dari rusaknya lingkungan, khususnya kawasan-kawasan lindung.

Begitu orang bijak bilang, karena lewat belajar dari pengalaman yang ada, maka kesalahan serupa tidak terulang lagi. Ungkapan lain yang mungkin menyerupai sindiran : “Sebodoh-bodohnya keledai, tidak akan terperosok pada lubang yang sama”. Dan masih banyak ungkapan lain yang intinya mengingatkan kita untuk berhati-hati, waspada, selalu belajar dan menganalisis. Sehingga apapun aksi yang dilakukan tidak menimbulkan dampak buruk.

Demikian juga dengan beberapa rencana aktivitas yang saat ini banyak bermunculan. Seperti halnya rencana taman nasional untuk kawasan gunung Merapi. Keinginan dijadikannya wilayah Merapi menjadi TN sebenarnya sudah cukup lama. Kembali mencuat tahun 2001 dengan adanya gagasan ulang melalui rapat koordinasi pemerintah Jateng – DIY yang diprakarsai Gubernur DIY yang sekaligus Raja Mataram. Sejak saat itu, paling tidak telah diadakan 5 kali pertemuan yang membahas mengenai rencana tersebut yang dilakukan secara terbuka. Inti dari rangkaian pertemuan tersebut adalah kesepakatan akan pentingnnya konservasi kawasan gunung Merapi, baik dilihat dari fungsi ekologis, sosial-budaya maupun ekonomi. Tidak ada yang menolak tentang upaya pelestarian kawasan Gunung Merapi, baik ditingkat masyarakat lokal, Ornop, akademisi maupun birokrat sendiri. Dalam pelaksanaan tersebut, upaya konservasi hendaknya tidak mengabaikan masyarakat lokal, apalagi sampai merugikan. Sedangkan baju/nama dalam upaya pelestarian Gunung Merapi bisa disesuaikan setelah ada model yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.

Munculnya keberatan dari berbagai kalangan berkaitan dengan “pemaksaan” taman nasional untuk kawasan Gunung Merapi tidak lain dari pengalaman yang terjadi pada taman nasional yang ada di Indonesia. Baik yang ada di pulau jawa (seperti TN Gede Pangrango, Merubetiri, Alas Purwo, TN laut Karimunjawa dll) maupun TN yang ada di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi maupun Papua yang tidak lebih hanya sebagai project. Dan yang lebih buruk, kondisi masyarkat dengan adanya TN tidak lebih baik, bahkan lebih buruk. Seperti relokasi maupun pembatasan interaksi dengan kawasan TN tanpa ada solusi yang baik. Bantuan yang diberkan dari pihak pengelola TN ke masyarakat lokal banyak yang tidak tepat, salah sasaran bahkan memicu perusakan TN itu sendiri. Seperti yang akhir-akhir ini terjadi di TN Merubetiri berkaitan dengan rehabilitasi kawasan yang bantuannya diberikan hanya pada kelompok masyarakat penjarah hutan. Jelas ini berimpact buruk karena akan memicu masyarakat yang selama ini tidak ikutan menjarah akan melakukan penjaran untuk mendapatkan bantuan. Kasus lain adalah bantuan ternak sapi pada masayarakat nelayan di TN Alas Purwo yang kebutuhan mendasarnya adalah perahu, jaring atau pasar. Tidak lebih dari satu bulan, hampir semua ternak tidak berbekas, baik dijual maupun mati karena salah urus. Karena bantuan tersebut berupa hutang, maka masyarakat akhirnya terlilit hutang.

Kuatnya ambisi birokrat (Pemda dan Dinas) terhadap perwujudan TN untuk kawasan Merapi perlu dipertanyakan, hal ini diindikasikan adanya kepentingan di luar upaya konservasi. Karena jika untuk kepentingan konservasi kawasan, pilihan model tidak hanya taman nasional yang belum tentu pas untuk Merapi. Apalagi dengan adanya kasus buruk pada TN yang sudah ada. Sedangkan “niat baik” untuk membuat TN yang plus atau istimewa seperti yang saat ini ditiupkan, kendala yang muncul adalah aturan hukum yang berlaku saat ini. Tidak ada TN plus atau Instimewa dalam UU No. 5 tahun 1990 atau UU No. 41 tahun 1999. Bahkan kalau kita cermati, proses yang dilakukan tidak berbeda dengan yang dilakukan masa pemerintahan Orde Baru : Top down, tidak transparan, bahkan terjadi manipulasi. Adanya dukungan dari 3 desa melalui “sosialisasi” yang diklaim Dishutbun Prop. DIY, tidak lebih dari manipulasi terhadap khalayak. Informasi yang sampai kemasyarakat tidak pernah seimbang antara nilai positif yang didapat dengan dampak negatif yang ditimbulkan dikemudian hari.



Peran Serta dan Pemberdayaan Masyarakat



Yang paling sederhana dari perwujudan peran serta adalah pelibatan. Jika peran serta tersebut menjadi komitmen dalam perencanaan TNGM, maka pelibatan masyarakat lokal jelas akan menjadi prioritas, terlepas apakah untuk menjalankan proses ini membutuhkan waktu yang lama karena ini sudah menjadi pilihan. Sedangkan dari sisi pemberdayaan makna yang paling simple adalah peningkatan kapasitas, baik melalui kampanye maupun melalui pendidikan. Inipun jika dikaitkan dengan proses perencanaan TNGM harus dijalankan, seperti membaca kebijakan yang bersangkutan, menganalisis, maupun peningkatan kemampuan dalam upaya persiapan atau menyambut rencana TNGM.

Karena pilihan yang kita ambil adalah partisipatori yang berarti akan menggunakan bottom up planning, maka tidak bisa jika hasil akhirnya telah ditentukan. Karena bagaimanapun pilihan yang akan diambil atau diputuskan adalah yang paling sesuai atau paling pas dengan realitas yang ada. Jika pilihan dari hasil proses tersebut adalah hutan lindung, maka rencana TN tidak bisa dipaksakan jadi.


Posisi Ornop dan WALHI DIY dalam mensikapi rencana TNGM

Adanya penolakan sebagian masyarakat atas rencana pengembangan TNGM ditengarai karena adanya informasi yang disampaikan oleh LSM yang tidak seimbang atau masyarakat belum tahu (Kompas, 19 April 2002). Ungkapan ini muncul saat rapat koordinasi tertutup yang diliput oleh media massa tanggal 18 April 2002 di Kepatihan. Pernyataan ini jelas keluar dari fakta yang ada dilapangan. Dari beberapa pertemuan yang juga melibatkan masyarakat lokal telah muncul kesepahaman dan kesepakatan serta mendukung upaya konservasi kawasan Merapi. Namun untuk model yang akan diterapkan perlu diperjelas. Kalau memang Taman Nasional, “seperti apa sih taman nasional itu?” Dan beberapa ungkapan yang dimunculkan untuk menjawab hal tersebut, ternyata tidak memuaskan karena tidak sesuai dengan fakta yang ada serta kebijakan yang berlaku. Demikian juga dengan proses yang dijalankan.

Sampai saat ini, informasi kebijakan pengelolaan konservasi tidak pernah sampai ke tangan masyarakat melalui instansi terkait. Untuk mengisi kekosongan tersebut, beberapa Ornop mencoba menfasilitasi melalui diskusi dengan masyarakat. Target dari semua itu bukan untuk Menolak rencana TNGM. Tapi, pilihan ada pada masyarakat itu sendiri yang akan merasakan secara langsung dari perwujudan rencana tersebut. Dan apapun keputusan yang akan diambil didasarkan atas analisis dan pertimbangan yang matang. Artinya menolak atau menerima didasarkan atas pengetahuan dan pemahanan serta konsekwensi yang akan berkaitan atas keputusannya tersebut.

Lebih Detail...

Trekking di Jalan Aspal Taman Nasional Alas Purwo

Rencana untuk menjelajah taman nasional alas purwo di memory tercepat computer tetap di miliki manusia,masih juga masih tersimpan baik di otak kecil saya. Ya, mimpi ini setelah melihat jadwal libur yang panjang, membulatkan tekad untuk datang dan mengenal lebih dekat tentang Taman Nasional Alas Purwo yang lebih dikenal dengan Alas Purwo saja.

Dalam perjalanan pulang dari kawasan pegunungan Ijen yang memiliki pemandangan yang menakjubkan, juga membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana cara bertahan hidup, begitu melihat aktifitas penambangan belerang yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam.

Kami bermalam di Hostel Anda di jember, dan pagi hari saya dan chipi pisahan dengan kawan-kawan menuju terminal bus jember untuk jurusan Banyuwangi. Tarif nya lumayan Rp. 20.000 sekali jalan, lewat lintas selatan, membelah pegunungan meru betiri, dalam perjalanan lintas hutan meru, banyak penduduk yang meminta-minta uang di setiap tikungan tajam, butuh waktu 3-4 jam perjalanan dari jember untuk sampai di banyuwangi. Benculuk, ini jalur tercepat untuk sampai di Taman Nasional Alas Purwo, tapi karena saya ada janjian dengan teman asal Bandung, Nia namanya, dan belum pernah saya kenal sebelumnya.
Image
Kami janjian ketemuan di kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo di Jl. Ahmad Yani 196 Banyuwangi, saya sekalian membutuhkan sedikit informasi tentang keberadaan Taman Nasional yang berada di Ujung Timur pulau jawa ini.

Taman Nasional alas purwo, alas purwo = hutan pertama, di percaya sebagai cikal bakal hutan di pulau jawa, Taman Nasional ini di tetapkan sebagai Kawasan Konservasi Alam yang merupakan sumber daya alam hayati juga untuk menjaga kelangsungan ekosistemnya, punya luas 43.420 ha masuk dalam dua wilayah kecamatan Tegal Dlimo dan kec Purwoharjo Kab. Banyuwangi.

Dalam penantian lama menunggu bus jurusan Banyuwangi-kali Pait, kami di tawari untuk carter mobil tua, seharga 150.000,- diantar sampai ke RowoBendo, pos penjagaan untuk masuk kawasan Taman Nasional ini, tampa pikir panjang oke sajalah.
Dalam perjalanan, pak sopir yang asli suku Osing, mampir ke Pom bensin membeli 5 liter bensin, lalu mampir ke Toko kelontong membeli 4 liter minyak Tanah! Buat apa pak? Untuk oplosan, wah.. Apakah mobil bisa jalan, katanya bisa.
Dan dalam perjalanan, seorang pria tua, tidak bisa melihat (buta) memberikan sehelai kain yang saya agak sulit membacanya. Katanya untuk jaga-jaga di Hutan Alas purwo, untuk menghormatinya, ya saya terima dengan baik.
Image
Dibutuhkan waktu perjalanan hampir 4 jam lamanya, tentu goyangan mobil tua merk Daihatsu ini, geredek2x, dan ternyata Pak Sopir belum pernah ke rowo bendo, hutan alas Puwo.

Menjelang Malam, minggu 28 may kami akhirnya sampe juga di Pos rowo bendo dan setelah membeli tiket masuk Taman Nasional, Pak Suharto, kepala resort rowo menawari kami bermalam di pos nya. kami memutuskan bermalam semalam di Pos ini. Menjelang malam, sambutan Babi dan beberapa ekor monyet, begitu dekat dengan kami.

Tidak banyak yang bisa di nikmati di Pos ini, ada warung yang menyediakan makan.

Pagi hari senin 29 mei 2006, burung-burung terlihat banyak sekali di sekitar pos, kami trekking pendek ke sadengan, tempat berkumpulnya kawanan banteng jawa, rusa, babi, burung merak,ayam hutan dan burung pemakan bangkai..butuh waktu sekitar 1 jam dari rowobendo, berjarak sekitar 5 km. ketika kami tiba di sadengan yang luas padang savana ini lebih dari 20 ha, tidak banyak terlhat banteng, mungkin kami datangnya siang hari. Pada pagi hari katanya hewan liar yang ada disini lumayan banyak..
Image

Lalu perjalanan trekking di lanjutkan menempuh rute jalan setapak yang di kenal dengan jalur burung berkicau, dalam perjalanan santai ini, kicauan burung-burung terdengar di atas pohon-pohon tinggi, trekking ini menempuh sekitar 5-6 km hingga ke bibir pantai laut selatan lalu susur pantai sunglon Ombo, sampai ke pantai Triunggulasi, tempat tersedianya akomodasi bagi wisatawan yang bermalam dengan akomodasi, disini kami menemukan sekumpulan monyet dan beberapa ekor rusa yang sedang merumput di pinggiran pantai.
Image
Dari triunggulasi, perjalanan di lanjutkan untuk melihat lebih dekat keberadaan Pura Giri selaka, yang di percaya oleh kalangan umat hindu sebagai tempat bersembahyang. Hampir setiap minggu ada yang datang ke pura ini, untuk melakukan kunjungan sembahyang di pura ini, umumnya berasal dari pulau Bali.
Image
Setelah puas memotret di sekitar pura, menjelang siang kami kembali ke rowo bendo.

Setelah Makan siang di warung di pos rowobendo, kami packing dan siap melakukan perjalanan trekking di Jalan aspal menuju Pancur, saya lihat jaraknya 5 km dari pos rowobendo. Perjalanan trekking di jalan aspal, bikin bete, apalagi sesekali ada sepeda motor yang melintas, sepanjang perjalanan, kami menjumpai kawanan monyet dan kadang ada babi yang melintas, menakjubkan untuk saya yang kebetulan menyukai wildlife adventure, walaupun saya tidak suka dengan model trekking di jalan Aspal, 2,5 jam ternyata waktu yang kami tempuh.
Image
Dan, malam ini kami putuskan bermalam lagi di Pos Pancur, pos ini terlihat ramai, apalagi pancur di kenal dengan pos terakhir tempat para pencari wangsit atau untuk bersemedi di Gua padepokan atau di gua istana.
Sore nya saya menunggu sunset di pantai pancur, hmm..hmm.. Ngok-ngok, suara babi yang ternyata banyak sekali di sekitar pos ini.
Image
Malam nya, kami di ajak Gufron, mahasiswa IPB yang sedang melakukan penelitian Macan Jawa untuk safari malam mencari macam di sekitar Batu lawang, malam itu kami sempat bertemu sepintas dengan Anak Macan, agak susah untuk bertemu macan yang lebih cenderung menghindari keberadaan manusia, lalu tengah malam kami bersantai di tepian pantai batulawang, deburan ombak menjadikan suara alam yang indah di gelapnya malam.
Menjelang tengah malam, kami kembali ke Pos Pancur, setelah menunggu lama, ternyata tak ada satupun macan yang datang malam ini.
Image
Selasa pagi, 30 mei 2006. karena kami di larang untuk bermalam di Plengkung, kami putuskan untuk trekking santai ke plengkung yang berjarak sekitar 9 km dari pancur, alamak trekking di jalan Aspal lagi nih, butuh waktu 3 jam perjalanan, dalam perjalanan kami bertemu dengan biawak, burung merak, ayam hutan… Siang yang panas, saya putuskan untuk berenang di pantai yang indah dan exotic ini, sementara untuk melihat para surfer yang beraksi di Plengkung, terlalu jauh.. Karena memang ombaknya jauh sekali dari bibir pantai.

Karena sore, dan cape juga trekking di jalan aspal,akhirnya kami bernego untuk minta di antarkan ke pancur dengan sepeda motor milik nelayan yang mencari ikan di sepanjang pantai plengkung.
Image
Saya tidak melihat yang istimewa dari perjalanan ini, karena memang trekking nya di jalan aspal, mau lewat pantai, pasir gotri nya biki sakit di kaki, walapun masih ada lokasi lain seperti Ngagelan, tempat penetasan telur penyu semi alami dan tempat pemeliharaan tukik, tak sempat kami kunjungi, begitu juga beberapa gua di utara pos pancur juga tak sempat kami kunjungi, perjalanan ke alas purwo, selalu menyimpan kenangan tersendiri.
Image
Pagi Harinya, Rabu 31 mei 2006 kami sudah siap packing, dan memutuskan untuk cari tumpangan Mobil Bak milik pengelola Resort surfing jungle camp. Beruntung sekali pagi ini ternyata ada yang lewat dan bersedia memberikan tumpangan kepada kami, sampai di Dam buntung- kali pait.

Dari kali pait, perjalanan kami lanjutkan dengan angkot menuju benculuk tariff nya Rp. 8000,- tampa pikir panjang, kami langsung naik,walaupun awalnya kami kepengen naik truk gerandong, truk asli made in indonesia.
Dari benculuk, sudah banyak Bus Umum jurusan banyuwangi - jember, lalu.., hmm..hmm. Siang hari kami sampai di di jember lagi, dan di lanjutkan dengan Naik Bus Patas ke Surabaya.
Di surabaya, saya pisahan dengan Nia dan Chipi, mereka menuju stasiun Gubeng, saya memutuskan bermalam di Rumah yuda di surabaya.

Saya masih penasaran dengan Alas purwo, tapi rasanya akan asik kalau di jajal dengan bikepacking.

Travel tips:

transport
Surabaya - Jember Rp. 40.000
Jember - Benculuk Rp. 15.000
Bus AC Rp. 20.000
Benculuk - kali Pait Rp. 8.000
Kali Pait - Pasar anyar Rp. 30.000 (ojeg)
Pasar Anyar - Rowobendo Rp. 20.000 (ojeg)
Pasar Anyar-rowo bendo, bisa numpang losbak/truk kalau ada yang lewat
Perijinan / org Rp. 4.500,-

Akomodasi
-di pos rowobendo Rp. 100.000 / malam
-Surfing Jungle camp USD 30

Food
- Ada warung Makan di Pos Rowo Bendo dan Pos Pancur

Local guides
Jagawana Guides Rp. 75.000 - Rp. 150.000,- / days

Lebih Detail...

Taman Nasional Gunung Rinjani


Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan salah satu bagian dari hutan tropis yang terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat yang terdiri dari berbagai tipe ekosistem dan vegetasi yang cukup lengkap mulai dari Hutan Tropis Daratan Rendah (Semi Evergreen) sampai Hutan Tropis Pegunungan (1.500 - 2.000 m dpl) yang masih utuh dan berbentuk hutan primer, hutan cemara dan vegetasi sub alpin (>2.000 m dpl). Potensi kawasan dapat dijadikan sumber plasma nutfah dan keindahan alam, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian dan wisata alam.




FLORA


Ketinggian <>
Terdapat jenis-jenis seperti beringin, (Ficus Benymina), Jelateng (Laportea Stimulan), Jambu-jambuan (Syzigium sp), Pala Hutan (Myritica Fatna), Buni Hutan (Antdesma SP), Imba (Azadiratctha Indica), Bajur (Pterospermum Javanicum), Randu Hutan (Gossapinus Heptophylla), Terep (Artocarpus Elastica), Herending (Melastoma sp), Pandan (Pandanus Tectorius), Keruing Bunga (Diptorocrapus Haseltii), Salam (Syzigium Polyantha).

Ketinggian 1.000 - 2.000 m dpl
Banyak dijumpai jenis tumbuhan seperti anggrek (Vanda, sp), Meniran (calicarpa sp), Kayu Jakut (syzigium sp), Menang/Garu (Dysoxylum sp), sentul (Aglaia sp), Deduren (Aglaia argentea), Pandan (Pandanus tectorius), Paku pandan (Asplenium nidus), Glagah (Saccharum spontaneum), Alang-alang (imperata cylindrica), Paku-pakuan (Cyclocorus sp), Bunga abadi (Anaphalis visdica), Lumut Jenggot (Usnea sp) dan Rotan Besar (Daemonorops sp).

Ketinggian > 2.000 m dpl
Banyak didominasi oleh Cemara Gunung (Casuarina junghubniana), Bunga Abadi (Anaphalis visdica), Bangsal (Engelhardia spicata), Melela (Podocarpus Vaccinium), Pacar Gunung (Vacinium caringifolia), Jambu-jambuan(Syzigium sp) dan Raksasa (Photinia moniana).

Pada ketinggian > 3.000 m dpl dekat dengan puncak Rinjani keadaannya hampir gundul dan tandus, tanah berpasir, berbatu sedangkan dibawah puncak banyak dijumpai rumput dan semak belukar yang mempunyai daun tebal serta cemara gunung yang tumbuh sporadis.

Ada beberapa lokasi Taman Nasional Gunung Rinjani yang pernah direboisasi dengan jenis tanaman antara lain: Suren (Toona sureni), Mahoni (Swietenia macrophylla King), Kemiri (Aleurites moluccana), Nangka (Artocarpus integra) dll.

Beberpa Jenis Flora Nusa Tenggara yang ditemukan dikawasan ini antara lain Vernonia albiflora, Vernonia tengwalii, dan beberapa jenis anggrek dianntaranya Peristylus rintjaniensis dan Peristylus lombokensis (LIPI).



WISATA DAN AKSESIBILITAS

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Barat No.2 Tahun 1989 kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan salah satu dari 15 lokasi yang memiliki potensi pengembangan wisata alam dan menjadi daerah tujuan wisata di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Beberapa lokasi yang menjadi daya tarik utama kunjungan adalah sebagai berikut:



Puncak Gunung Rinjani

Pendakian Gunung Rinjani (puncak) merupakan salah satu objek wisata yang menjadi andalan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Gunung Rinjani sebagai gunung vulkanik yang masih aktif nomor 2 tertinggi di Indonesia. Puncak Gunung Rinjani merupakan tujuan sebagian besar petualang dan pecinta alam yang mengunjungi kawasan ini karena apabila telah berhasil animo komunitas pencinta alam diseluruh nusantara bahkan dari mancanegara dalam kegiatan pendakian cukup besar, ini terbukti dengan jumlah pengunjung yang melakukan pendakian setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Kegiatan pendakian secara besar-besaran dilakikan pada bulan Juli s/d Agustus (pertengahan) peserta pendakian umumnya didominasi oleh kalangan pelajar/mahasiswa dari seluruh Indonesia yang ingin merayakan HUT Kemerdekaan RI di puncak Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak melalui kegiatan "Tapak Rinjani" yang diadakan secara rutin setiap tahunnya oleh salah satu kelompok pencinta alam di Pulau Lombok yang berkerja sama dengan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.





Danau Segara Anak

Pesona unggulan Taman Nasional Gunung Rinjani yang sangat prospektif adalah Danau Segara Anak, lokasi ini dapat ditempuh dari dua jalur resmi pendakian yaitu jalur pendakian Senaru dan jalur pendakian Sembalun. Untuk mengunjungi Danau Segara Anak dari jalur senaru dibutuhkan waktu tempuh sekitar 7-10 jam berjalan kaki (± 8 km) dari pintu gerbang jalur pendakian Senaru. Sedangkan dari jalur pendakian Sembalun ditempuh dalam waktu 8 - 10 jam. Danau segara anak dengan ketinggian ± 2.020 m dpl dan kedalaman danau sekitar ± 230 meter mempunyai bentuk seperti bulan sabit dengan luasan sekitar 1.100 Ha.

Disekitar Danau Segara Anak terdapat lahan yang cukup luas dan datar, dapat digunakan untuk tempat berkemping/berkemah, juga pengunjung bisa memancing ikan didanau atau berendam di air panas yang mengandung belerang.
Objek lainnya disekitar Danau Segara Anak adalah Hulu Sungai Koko Puteq ± 150 meter dari Danau Segara Anak. Selain itu terdapat pula Goa Susu, Goa Manik, Goa Payung. Goa Payung dipercaya dapat dijadikan media bercermin diri serta sering pula dipergunakan sebagai tempat bermeditasi. Sedangkan dibagian bawah Danau Segara Anak terdapat sumber air panas (Aik Kalak Pengkereman Jembangan) yang biasa digunakan untuk menguji dan memandikan benda-benda bertuah (Pedang, Keris, Badik, Tombak, Golok, dll) dimana jika benda-benda tersebut menjadi lengket apabila direndam itu menandakan benda-benda tersebut jelek/tidak memiliki kekuatan supranatural, sebaliknya apabila benda-benda tersebut tetap utuh berarti benda tersebut memiliki kekuatan supranatural/dipercaya memiliki keampuhan.





Air Terjun Sendang Gile Senaru

Selain sebagai gerbang pendakian Desa Senaru juga menyimpan potensi wisata lain yaitu Air Terjun Gile (± 25 M) merupakan air terjun dua tingkat dengan suhu yang cukup sejuk, anda dapat merasakan hempasan angin yang diciptakan oleh air terjun yang cukup tinggi. Sebagai desa adat, Senaru juga memiliki perkampungan (Desa Adat) berasiktektur tradisional yang dibangun berdasarkan penanggalan "atas-bawah" yang pada susunan paling atas adalah rumah adat melokaq (mangku), menurut kepercayaan bagi wanita yang berhalangan serta pasangan suami istri yang belum selesai adat kawinya dilarang memasuki rumah adat.
Rumah adat tradisional suku sasak bayan, merupakan suatu kompleks perumahan yang tetap dijaga keasliannya. di Desa Senaru anda bisa menemukan fasilitas penginapan dan restoran disekitar gerbang pendakian air terjun.





Air Terjun Jeruk Manis

Air terjun Jeruk Manis dengan ketinggian ± 30 m yang tepatnya di Desa Kembang Kuning terletak di bagian Selatan Kawasan Taman Nasional yaitu di Desa Kembang Kuning. Disekitar lokasi menuju air terjun (Tete Batu) banyak terdapat sarana akomodasi bagi pengunjung baik lokal maupun mancanegara diantaranya seperti Home Stay, Cottages, Restorant dll. Daerah ini (sekitar air terjun) selain mempunyai panorama alam yang indah kita juga dapat melihat atraksi alam berupa tingkah laku Lutung dan Burung Elang yang diperkirakan daerah ini merupakan habitat dan populasi terbesar di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.





Pemandian Otak Kokok Gading

Otak Kokok merupakan daerah dengan pemandangan alam yang indah dan sejuk, disini terdapat air terjun yang diyakini masyarakat sekitar bisa menyembuhkan berbagai penyakit dengan cara mandi di air terjun Otak Kokok dimana jika buih air yang telah menyentuh badan kita berubah warna putih di indikasikan bahwa badan kita terkena penyakit. Disekitar air terjun juga dibangun kolam renang dan gazebo/tempat-tempat peristirahatan.

Di Otak Kokok inipun terdapat Areal Arberetum yang sedang dikembangkan oleh Taman Nasional Gunung Rinjni bekerja sama dengan Kelompok Masyarakat Peduli Arboretum (KMPA) Otak Kokok Gading. Dan bagi anda yang ingin berkemah dan menikmati panorama alam, telah tersedia Areal Camping Ground.





Pemandian Air Panas Sebau



Air panas sebau dipercaya oleh masyarakat sekitar dapat mengobati berbagai penyakit kulit (panu, kadas, kurap dll), dengan ditunjang dengan panorama alam sekitar lokasi air panas yang antara lain berupa bukit Bau, serta panorama sepanjang jalur trail menuju lokasi pemandian yang banyak dijumpai beberapa jenis burung, rusa, kera abu-abu juga lutung.
Namun disayangkan adanya kepercayaan masyarakat yang menyakini bahwa dengan membuang pakaian yang telah digunakan untuk berendam secara sembarangan maka penyakit mereka akan juga terbuang. Sehingga sekitar lokasi pemandian cenderung terlihat kotor oleh pakaian yang dipergunakan mandi pengunjung walaupun sudah disediakan tempat-tempat sampah





Budaya

Disamping untuk tujuan wisata alam, Taman Nasional Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, bagi suku Bali Lombok, suku Sasak dan masih dipercaya sebagai tempat penuh nuansa mistis dan masih dipakai sebagai tempat Upacara-Upacara Ritual (Upacara Adat Keagamaan) bagi umat islam wetu telu didaerah Bayan dan umah hindu, diantara kegiatan ritual keagamaan yang sering dilakukan di Danau Segara Anak adalah:

  • Peringatan Maulid adat masyarakat desa Bayan (Maulid Nabi)
  • Upacara Mulang Pakelem (Hindu) yaitu upacara persembahan sesajen dan emas yang telah dibentuk menajdi replika ikan, udang dan kura-kura yang dipersembahkan di Danau Segara Anak yang bertujuan untuk memohon turunnya hujan demi kesuburan dan kehidupan segala tumbuh-tumbuhan dan kemakmuran semua mahluk hidup.

  • Selain itu dengan mandi di sumber air panas (belerang) di Hulu Sungai Kokoq putih didekat danau dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit.
    Gunung Rinjani dan sekitarnya juga masih dipercaya sebagai tempat hidupnya mahluk halus/jin yang kesemuanya dipimpin Ratu Jin yang bernama "Dewi Anjani".


    Lebih Detail...

    Kisah Tragis Pendakian Everest

    “Dan, apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka, kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al-Qur’an itu?”(Al-A’raaf:185).

    Membaca buku tebal berjudul ‘Into Thin Air’ berisi tulisan-tulisan yang memukau sempat membuatku terkesima. Buku itu cukup bisa mengaduk-aduk emosi pembaca dan membuat ingin tahu cerita selanjutnya saat membaca kata demi kata. Into Thin Air menceritakan kisah pendakian puncak Everest oleh beberapa tim ekspedisi namun difokuskan pada sebuah tim ekspedisi bernama “Adventure Consultants”.
    Penulis buku ini adalah seorang editor majalah outside (wartawan) bernama Jon Krakauer yang tinggal di Seattle. Kisah ini diambil dari pengalaman penulis saat melakukan pendakian gunung everest pada tahun 1996. Puncak Everest merupakan salah satu puncak yang terdapat di pegunungan himalaya. Pegunungan Himalaya terdiri dari beberapa puncak. Di antaranya yaitu puncak Cho oyu, puncak Selatan, Hillary step, dll namun yang paling tinggi adalah Everest.
    Ekspedisi yang teramat sulit berhasil dialui oleh Jon namun menyisakan kepedihan mendalam dan membuat penulis cukup terguncang. Di puncak Everest dengan ketinggian 29000 kaki, pendaki sering dihadapkan pada masalah kurangnya persediaan oksigen sehingga untuk berpikir jernih pun sangat sulit dilakukan terlebih jika harus mengambil keputusan penting. Zona kematian itu sudah begitu banyak menelan korban.

    “…Kebenaran yang paling sederhana adalah aku tahu tahu bahwa aku tidak seharusnya pergi ke Everest, tetapi aku pergi juga. Dan karena itu, aku ikut menjadi penyebab tewasnya orang-orang yang baik, sesuatu yang mungkin mengusik batinku untuk waktu yang sangat lama.
    Empat ratus kaki di atasku, di puncak Everest yang masih bermandi cahaya matahari, di bawah naungan langit yang biru, teman-temanku sedang berpesta merayakan keberhasilan mereka menaklukkan puncak planet ini, mengibarkan bendera dan membuat beberapa foto, menghamburkan setiap detik waktu yang sangat berharga. Tidak seorang pun yang pernah mambayangkan bahwa bencana yang menakutkan sedang mengintai. Tidak ada yang menduga, bahwa di penghujung hari itu, setiap detik akan menjadi sangat berarti….”

    Jon tidak menghabiskan waktu banyak di puncak everest. Ia segera turun karena memperhitungkan bahwa ia akan kehabisan oksigen jika berlama-lama di puncak. Ia pun sampai di Camp Empat tepat pada waktunya sebelum hari mulai gelap. Sementara rekan-rekannya yang berhasil mencapai puncak belum sampai di Camp Empat padahal hari sudah gelap. Dari lima rekan satu tim yang berhasil sampai puncak everest, empat orang temasuk pemimpin ekspedisi meninggal dunia. Satu orang yang selamat dari kelima orang itu adalah penulis.
    Mendaki everest merupakan kegiatan yang sangat berbahaya baik bagi pemula yang dipandu maupun pendaki gunung kaliber dunia yang mendaki bersama rekan-rekan mereka. Para pendaki sewaktu-waktu dapat terkena gigitan salju yang teramat dingin yang memungkinkan sel-sel tubuh yang terkena dapat rusak, membusuk hingga perlu diamputasi. Penyakit yang terkadang ditemui pada pendaki gunung yang amat tinggi dapat berupa penyakit ketinggian HAPE (High Altitude Pulmonary Edema)/membengkaknya paru-paru akibat ketinggian. Penyakit misterius yang mematikan ini kerap , menyerang seorang pendaki yang mendaki terlalu tinggi dan terlalu cepat sehingga paru-paru si pendaki tertutup cairan. Penyebabnya diduga karena kurangnya oksigen, ditambah tingginya tekanan pada pembuluh darah jantung yang menuju paru-paru menyebabkan pembuluh darah tersebut bocor sehingga cairan masuk ke dalam paru-paru. Selain itu yang justru lebih berbahaya adalah HACE (High Altitude Cerebral Edema)/pembengkakan otak akibat ketinggian namun HACE lebih jarang dibanding HAPE. HACE merupakan sejenis penyakit membingungkan dan terjadi jika ada kebocoran pada pembuluh darah otak yang kekurangan oksigen, menyebabkan otak membengkak cepat, dengan hanya sedikit atau bahkan tanpa peringatan sama sekali. Ketika tekanan di dalam rongga otak meningkat, kemampuan motorik dan mental penderita akan menurun dengan drastis - biasanya hanya dalam waktu beberapa jam atau kurang - dan biasanya, si korban tidak sadar akan perubahan yang terjadi. Tahap selanjutnya adalah koma, jika si pasien tidak segera dievakuasi ke ketinggian yang lebih rendah, lalu disusul dengan kematian.

    “Dan, mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya, kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.”(ar-Ruum:8)

    Tiap jengkal lukisan alam semoga membuat kita makin tunduk pada keperkasaan Sang Pencipta karena pada dasarnya kita yang lemah ini tak akan berdaya dibandingkan keperkasaan alam yang merupakan guratan ayat-ayat kauniyah-Nya. Ada beberapa patah kata dari seorang pendaki Indonesia (Ita Budhi), “Seorang pendaki gunung sejatinya tidak senang menaklukkan pucuk-pucuk tertinggi yang sedang menusuk ke langit tapi ia sedang menaklukkan pucuk-pucuk tertinggi dari egonya sendiri sebagai seorang manusia.

    “Dan, di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tiada memperhatikan?” (adz-Dzaariyaat:20-21).

    Lebih Detail...

    Penyakit Hipotermia

    Gejala dan Indikasi Penyakit Hipotermia

    # Hipotermia diawali dengan gejala kedinginan spt biasa, dari badan gemetaran menahan dingin sampe gigi berkerotakan kerna ndak kuat nahan dingin.

    # Bila tubuh korban basah, maka serangan hiportemia akan semakin cepat dan hebat.

    # Selain itu bila angin bertiup kencang, maka pendaki akan cepat sekali kehilangan panas tubuhnya ("faktor wind cill" kalo ndak salah). Jadi kalo badan basah kuyub kehujanan dan angin bertiup kencang, maka potensi hipotermia menjadi "paradoxical feeling of warmt" akan semakin cepat terjadi.

    # Puncak dari gejala hipotermia adalah korban tidak lagi merasa kedinginan, tapi dia malah merasa kepanasan (dlm bukunya Norman Edwin disebut "paradoxical feeling of warmt" kalo ndak salah). Oleh karena itu si korban akan melepas bajunya satu per satu sampe bugil dan tetap masih merasa kepanasan.

    # Hipotermia menyerang saraf dan bergerak dg pelan, oleh karena itu sang korban tidak merasa kalo dia menjadi korban hipotermia. Dari sejak korban tidak bisa nahan kedinginan sampe malah merasa kepanasan di tengah udara yg terasa membekukan, korban biasanya tidak sadar kalo dia telah terserang hipotermia. Dalam hal ini kawan seperjalanan (terutama team leader atau kawan pendaki yg lebih pengalaman) sangat penting artinya utk mengawasi apakah kawan2 kita ada yg sakit (hipotermia, frostbite, mountain sickness, stress, dll). Jadi kalo ada kawan2 seperjalanan kita mulai bertingkah aneh2 yg di luar kebiasaannya, maka kita patut curiga dan waspada ada apa dg dia dan tentu saja perlu segera memeriksa atau menanyai apakah dia masih "sadar" atau tidak.

    # Dalam salah satu kasus, seorang pendaki cewek dengan "anggunnya" berganti pakaian yg basah dengan pakaian kering di hadapan kawan2nya. Tentunya cewek itu kalo dia sadar pasti tdk akan berani melakukan hal spt itu; tapi saat itu dia telah terkena hipotermia dan tdk sadar akan dirinya. Cewek itu kembali kesadarannya setelah sampe di bawah (istirahat dan makan). Waktu ditanyain ttg "kelakuannya" itu, dia malah tdk merasa melakukan sesuatu yg ganjil. Jadilah selama perjalanan pulang dan di sekretariat dia menjadi bulan2an olokan.

    # Dalam kasus penderita hipotermia yg sampe pada taraf "paradoxical feeling of warmt" selain merasa kepanasan dia juga terkena halusinasi. Akan tetapi, dlm banyak hal lainnya, halusinasi juga telah terjadi walau si korban tdk sampe mengalami "paradoxical feeling of warmt". Yang jelas, ketika si korban hipotermia sudah kehilangan "kesadaran", maka dia akan mudah terkena halusinasi. Dan faktor halusinasi ini yg sangat berbahaya karena korban akan "melihat bermacam2 hal" dan dia akan mengejar apa yg dilihatnya itu tanpa menghiraukan apa2 yg ada di hadapannya. Jadi tidaklah mengherankan kalo banyak korban hipotermia ditemukan jatuh ke jurang dlm kondisi telanjang bulat dan telah meninggal dunia.

    # Lalu bagaimana cara mengatasi kalo ada kawan kita yg terkena hipotermia? Kalo taraf hipotermianya ringan masih mudah ditangani, tapi kalo sudah mulai bertelanjang dan berlari2 atau berteriak2 mengejar halusinasinya akan susah sekali penangannya. Yang mudah dan praktis adalah melakukan tindakan pencegahan thd penyakit hipotermia.


    Tindakan2 Pencegahan Penyakit Hipotermia

    # Bila kita melakukan kegiatan luar ruangan (pendakian gunung khususnya) pada musim hujan atau di daerah dg curah hujan tinggi, maka membawa ponco/raincoat adalah suatu keharusan. Selain mbawa jas hujan, pakaian hangat (jaket tahan air dan tahan angin, kalo perlu) dan pakaian ganti yg berlebih dua tiga stel, serta kaus tangan dan kerpus/balaclava/topi ninja juga sangat penting. Perlengkapan yg tidak kalah pentingnya adalah sepatu pendakian yg baik dan dpt menutupi sampe mata kaki, jangan pake sendal gunung atau bahkan jangan pake sendal jepit. Naik gunung pada musim hujan bukan utk gagah2an aja.

    # Bawa makanan yg cepat dibakar menjadi kalori, spt gula jawa, enting2 kacang, coklat dll. Dalam perjalanan banyak "ngemil" utk mengganti energi yg hilang.

    # Bila angin bertiup kencang, maka segeralah memakai perlengkapan pakaian hangat, spt jaket, kerpus/balaclava dan kaus tangan. Kehilangan panas tubuh akibat faktor "wind cill" tidak terasa oleh kita, dan tahu2 aja kita jatuh sakit.

    # Bila hujan mulai turun bersegeralah memakai jas hujan, jangan menunggu hujan menjadi deras. Cuaca di gunung tdk dpt diduga. Hindari pakaian basah kena hujan.

    # Bila merasa dirinya lemah atau kurang kuat dalam tim, sebaiknya terus terang pada team leader atau anggota seperjalanan yg lebih pengalaman utk mengawasi dan membantu bila dirasa perlu.

    # Dont worry, be happy selalu dalam perjalanan. Semangat dan jangan gampang menyerah bila kondisi mulai memburuk.

    Udah ini aja dulu. Capek ngetiknya.
    Sebenarnya masih ada pengalaman ketika menangani korban hipotermia, baik hipo yg ringan maupun hipo berat; tapi ntar disambung lain kali aja yah.

    Lebih Detail...

    Daftar Perlengkapan Mendaki Gunung

    DAFTAR CHECKLIST PERLENGKAPAN KEGIATAN MENDAKI GUNUNG

    A. Perlengkapan Utama

    1. Sepatu dan kaus kaki.
    2. Ransel (frame pack, ukuran besar, 30 - 60 liter).
    3. One day pack (ransel/tas kecil untuk mobilitas jarak pendek).
    4. Senter dan batere dan bolam ekstra.
    5. Ponco atau raincoat.
    6. Matras.
    7. Sleeping bag (atau sarung kalau tidak punya).
    8. Topi rimba.
    9. Tempat minum atau veples.
    10. Korek api dalam wadah waterproof (tempat film) dan lilin.
    11. Obat-obatan pribadi (P3K set).
    12. Pisau saku.
    13. Kompor untuk masak (kompor parafin dan parafin atau kompor tahu dan minyak tanah atau kompor gas dan tabung elpiji).
    14. Nesting dan sendok dan cangkir.
    15. Peluit (bagus: peluit SOS atau whistle).
    16. Survival Kit).
    17. Peta dan kompas.
    18. Altimeter (kalau punya).
    19. Tenda (bisa diganti ponco atau lembaran kain parasut untuk dijadikan bivak).
    20. Parang tebas dan batu asah.
    21. Tissue gulung (untuk membersihkan perangkat makan-minum bila tidak ada air, dan alat bersih diri habis buang air besar).
    22. Sandal jepit.
    23. Gaiter (untuk pendakian di daerah yang banyak pasirnya).
    24. Kaus tangan.
    25. Personal higiene: sikat gigi, odol, sabun mandi, shampo (untuk membersihkan diri saat di desa terakhir, atau saat dalam perjalanan bertemu dengan sungai yang bisa untuk bersih-bersih diri).
    26. Tali plastik (sekitar 10 meter, untuk membuat bivak atau tenda) dan tali rafia.

    B. Pakaian

    1. Pakaian dalam.
    2. Celana pendek.
    3. Celana panjang.
    4. Kaos/t-shirt.
    5. Sweater atau parka.
    6. Jaket (tahan air).
    7. Sarung.
    8. Kerpus atau balaclava.
    9. Scarf atau slayer.
    10. Hem lengan panjang.
    11. Pakaian ganti: kaus kaki, kaos, sweater, pakaian dalam.
    12. Kaus tangan.
    13. Jas hujan (raincoat atau ponco).

    C. First Aid Kit

    1. Betadine.
    2. Kapas.
    3. Kain kassa.
    4. Perban.
    5. Rivanol.
    6. Alkohol 70%.
    7. Obat alergi: CTM.
    8. Obat maag.
    9. Tensoplast (agak banyak, mis: 4 pack, terutama untuk preventif ‘blister’ yang dikenakan sebelum perjalanan dilakukan).
    10. Parasetamol.
    11. Antalgin.
    12. Obat sakit perut (diare): Norit, Diatab
    13. Obat keracunan: Norit.
    14. Sunburn preventif: Nivea atau Sunblock
    15. Oralit (agak banyak, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang; kalau tidak ada bisa diganti larutan gula-garam).

    D. Survival Kit

    1. Kaca cermin.
    2. Peniti.
    3. Jarum jahit.
    4. Benang nilon.
    5. Mata pancing dan senar pancing.
    6. Silet atau cutter.
    7. Korek api dalam wadah water proof dan lilin.

    E. Lain-Lain

    1. KTP atau Kartu Pelajar
    2. Uang
    3. Buku catatan perjalanan (jurnal, diary) dan bolpen.
    4. Kamera dan film (sekarang: kamera digital dan batere cadangan).
    5. Radio kecil dan batere cadangan.
    6. Alat komunikasi (HT, sekarang: HP).
    7. Harmonika.
    8. Buku puisi Chairil Anwar.
    9. Buku puisi Khalil Gibran.

    Lebih Detail...

    SURVIVAL bag 2

    Kebutuhan survival

    Yang harus dipunyai oleh seorang survivor

    1. Sikap mental

    - Semangat untuk tetap hidup

    - Kepercayaan diri

    - Akal sehat

    - Disiplin dan rencana matang

    - Kemampuan belajar dari pengalaman

    2. Pengetahuan

    - Cara membuat bivak

    - Cara memperoleh air

    - Cara mendapatkan makanan

    - Cara membuat api

    - Pengetahuan orientasi medan

    - Cara mengatasi gangguan binatang

    - Cara mencari pertolongan

    3. Pengalaman dan latihan

    - Latihan mengidentifikasikan tanaman

    - Latihan membuat trap, dll

    4. Peralatan

    - Kotak survival

    - Pisau jungle , dll

    5. Kemauan belajar

    Langkah yang harus ditempuh bila
    saudara atau kelompok anda tersesat :

    • Mengkoordinasi anggota

    • Melakukan pertolongan pertama
    • Melihat kemampuan anggota
    • Mengadakan orientasi medan
    • Mengadakan penjatahan makanan
    • Membuat rencana dan pembagian tugas
    • Berusaha menyambung komunikasi dengan dunia kuar
    • Membuat jejak dan perhatian
    • Mendapatkan pertolongan
    Bahaya-bahaya dalam survival

    Banyak sekali bahaya dalam survival yang akan kita hadapi, antara lain :

    1. Ketegangan dan panik

    Pencegahan :

    - Sering berlatih

    - Berpikir positif dan optimis

    - Persiapan fisik dan mental

    2. Matahari / panas

    - Kelelahan panas

    - Kejang panas

    - Sengatan panas

    Keadaan yang menambah parahnya keadaan panas :

    - Penyakit akut/kronis

    - Baru sembuh dari penyakit

    - Demam

    - Baru memperoleh vaksinasi

    - Kurang tidur

    - Kelelahan

    - Terlalu gemuk

    - Penyakit kulit yang merata

    - Pernah mengalami sengatan udara panas

    - Minum alkohol

    - Dehidrasi

    Pencegahan keadaan panas :

    - Aklimitasi

    - Persedian air

    - Mengurangi aktivitas

    - Garam dapur

    - Pakaian :

    - Longgar

    - Lengan panjang

    - Celana pendek

    - Kaos oblong

    3. Serangan penyakit

    - Demam

    - Disentri

    - Typus

    - Malaria

    4. Kemerosotan mental

    Gejala : Lemah, lesu, kurang dapat berpikir dengan baik, histeris

    Penyebab : Kejiwaan dan fisik lemah

    Keadaan lingkungan mencekam

    Pencegahan : Usahakan tenang

    Banyak berlatih

    5. Bahaya binatang beracun dan berbisa

    Keracunan

    Gejala : Pusing dan muntah, nyeri dan kejang perut, kadang-kadang

    mencret, kejang-kejang seluruh badan, bisa pingsan.

    Penyebab : Makanan dan minuman beracun

    Pencegahan : Air garam di minum

    Minum air sabun mandi panas

    Minum teh pekat

    Di tohok anak tekaknya

    6. Keletihan amat sangat

    Pencegahan : Makan makanan berkalori

    Membatasi kegiatan

    7. Kelaparan

    8. Lecet

    9. Kedinginan

    Untuk penurunan suhu tubuh <>


    Membuat Bivak (Shelter)

    Tujuan : untuk melindungi dari angin, panas, hujan, dingin

    Jenis-jenis Shelter :


    1. Shelter asli alam

      Gua : Bukan tempat persembunyian binatang

      Tidak ada gas beracun

      Tidak mudah longsor

    2. Shelter buatan dari alam
    3. Shelter buatan

    Syarat Shelter :

    Hindari daerah aliran air

    Di atas shelter tidak ada dahan pohon mati/rapuh

    Bukan sarang nyamuk/serangga

    Bahan kuat

    Jangan terlalu merusak alam sekitar

    Terlindung langsung dari angin


    Mengatasi Gangguan Binatang

    a. Nyamuk


    • Obat nyamuk, autan, dll

    • Bunga kluwih dibakar

    • Gombal dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk

    • Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk

    b. Laron


    • Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan

    c. Lebah

    Apabila disengat lebah :


    • Oleskan air bawang merah pada luka berkali-kali

    • Tempelkan tanah basah/liat di atas luka

    • Jangan dipijit-pijit

    • Tempelkan pecahan genting panas di atas luka

    d. Lintah

    Apabila digigit lintah :

    • Teteskan air tembakau pada lintahnya
    • Taburkan garam di atas lintahnya
    • Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya

    • Taburkan abu rokok di atas lintahnya

    e. Semut


    • Gosokkan obat gosok pada luka gigitan

    • Letakkan cabe merah pada jalan semut

    • Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut

    f. Kalajengking dan lipan


    • Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar

    • Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit

    • Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka

    • Bobokkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka

    • Taburkan garam di sekeliling bivak untuk pencegahan

    g. Ular

    Pembahasan lebih lanjut dalam materi EMC


    Membuat Perangkap (Trap)

    Macam-macam Perangkap :


    • Perangkap model menggantung

    • Perangkap tali sederhana

    • Perangkap lubang jerat

    • Perangkap menimpa

    • Apace foot share

    Bahan :


    • tali/kawat

    • Umpan

    • Batang kayu

    • Cabang pohon


    Membaca Jejak

    Jenis :


    • Jejak buatan : dibuat oleh manusia

    • Jejak alami : tanda jejak sebagai tanda keadaan lingkungan

    Jejak alami biasanya menyatakan tentang :


    • Jenis binatang yang lewat

    • Arah gerak binatang

    • Besar kecilnya binatang

    • Cepat lambatnya gerak binatang

    Membaca jejak alami dapat diketahui dari :


    • Kotoran yang tersisa

    • Pohon atau ranting yang patah

    • Lumpur atau tanah yang tercecer di atas rumput


    Air

    Seseorang dalam keadaan normal dan sehat dapat bertahan sekitar 20 ñ 30 hari tanpa makan, tapi orang tsb hanya dapat bertahan hidup 3 - 5 hari saja tanpa air.

    Air yang tidak perlu dimurnikan :


    1. Hujan

      Tampung dengan ponco atau-daun yang lebar dan alirkan ke tempat penampungan

    2. Dari tanaman rambat/rotan

      Potong setinggi mungkin lalu potong pada bagian dekat tanah, air yang menetes dapat langsung ditampung atau diteteskan ke dalam mulut

    3. Dari tanaman

    Air yang terdapat pada bunga (kantung semar) dan lumut

    Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu :

    1. Air sungai besar
    2. Air sungai tergenang
    3. Air yang didapatkan dengan menggali pasir di pantai (+ 5 meter dari batas pasang surut)
    4. Air di daerah sungai yang kering, caranya dengan menggali lubang di bawah batuan
    5. Air dari batang pisang, caranya tebang batang pohon pisang, sehingga yang tersisa tinggal bawahnya lalu buat lubang maka air akan keluar, biasanya dapat keluar sampai 3 kali pengambilan


    Makanan

    Patokan memilih makanan :


    • Makanan yang di makan kera juga bisa di makan manusia

    • Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang berwarna mencolok

    • Hindari makanan yang mengeluarakan getah putih, seperti sabun kecuali sawo

    • Tanaman yang akan dimakan di coba dulu dioleskan pada tangan-lengan-bibir-lidah, tunggu sesaat. Apabila aman bisa dimakan

    • Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam

    Hubungan air dan makanan


    • Untuk air yang mengandung karbohidrat memerlukan air yang sedikit

    • Makanan ringan yang dikemas akan mempercepat kehausan

    • Makanan yang mengandung protein butuh air yang banyak

    Tumbuhan yang dapat dimakan

    Dari batangnya :


    • Batang pohon pisang (putihnya)

    • Bambu yang masih muda (rebung)

    • Pakis dalamnya berwarna putih

    • Sagu dalamnya berwarna putih

    • Tebu

    Dari daunnya :


    • Selada air

    • Rasamala (yang masih muda)

    • Daun mlinjo

    • Singkong

    Akar dan umbinya :


    • Ubi jalar, talas, singkong

    Buahnya :


    • Arbei, asam jawa, juwet

    Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :


    • Jamur merang, jamur kayu

    Ciri-ciri jamur beracun :


    • Mempunyai warna mencolok

    • Baunya tidak sedap

    • Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning

    • Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan

    • Bila diraba mudah hancur

    • Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya

    • Tumbuh dari kotoran hewan

    • Mengeluarkan getah putih

    Binatang yang bisa dimakan


    • Belalang

    • Jangkrik

    • Tempayak putih (gendon)

    • Cacing

    • Jenis burung

    • Laron

    • Lebah , larva, madu

    • Siput

    • Kadal : bagian belakang dan ekor

    • Katak hijau

    • Ular : 1/3 bagian tubuh tengahnya

    • Binatang besar lainnya

    Binatang yang tidak bisa dimakan


    • Mengandung bisa : lipan dan kalajengking

    • Mengandung racun : penyu laut

    • Mengandung bau yang khas : sigung


    Api

    Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api yang kecil beberapa buah, hal ini lebih baik dan panas yang dihasilkan merata.


    1. Dengan lensa / Kaca pembesar

      Fokuskan sinar pada satu titik dimana diletakkan bahan yang mudah terbakar.

    2. Gesekan kayu dengan kayu.

      Cara ini adalah cara yang paling susah, caranya dengan menggesek-gesekkan dua buah batang kayu sehingga panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar

    3. Busur dan gurdi

    Buatlah busur yang kuat dengan mempergunakan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah tebakar.

    Bahan penyala yang baik adalah kawul terdapat pada dasar kelapa, atau daun aren


    Survival kit

    Ialah perlengkapan untuk survival yang harus dibawa dalam perjalanan :


    • Perlengkapan memancing

    • Pisau

    • Tali kecil

    • Senter

    • Cermin suryakanta, cermin kecil

    • Peluit

    • Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air

    • Tablet garam, norit

    • Obat-obatan pribadi

    • Jarum + benang + peniti

    • dll


    Lebih Detail...